ato belajar Menulis

Just another WordPress.com weblog

—(((Batas Evaluasi)))—

Sebelumnya, aku ucapkan selamat kepada Teater Tyang Alit (TA) atas pementasan monolognya yang berjudul Batas Kontemplasi tanggal 15 Mei kemarin. Khususnya pembuat naskah sekaligus sutradaranya, saudara Rinto. Walaupun ada gangguan dari luar, pada saat yang sama ada acara band di area parkir kantin pusat, namun apresiasi penonton saya kira cukup menggembirakan. Iseng-iseng aku buat catatan yang nantinya akan aku sampaikan pada evaluasi pementasan monolog Batas Kontemplasi. Namun, karena intensitas pertemuanku dengan TA yang dapat dibilang jarang, maka sengaja aku tulis dalam tulisan ini. Tapi, yang jelas pertimbangn-pertimbanganku dalam tulisan ini bukanlah berdasarkan teori tentang keteateran yang baku, namun tidak lebih dari pandangan subyektif seorang penggemar teater. Jadi, tidak dapat dijadikan dasar perubahan pada pementasan TA selanjutnya, untung-untung dijadikan pemicu diskusi-diskusi di antara para anggota TA. Dari pementasan tanggal 15 Mei di ruang kaca dapat saya lihat kemajuan yang signifikan, khususnya pada segi teknik pementasan, dibandingkan pementasan-pementasan sebelumnya. Seting panggung sudah cukup baik, perlengkapan lighting yang sudah mendekati standard dan kru yang sudah bekerjasama dengan baik. Selain itu, ada pula kemajuan pada acting dari actor, yang saya kira tidak lepas dari tangan dingin saudara sutradara dan temen-temen yang lain. Sayang kita belum mempunyai panggung yang representatif untuk sebuah pementasan teater, namun untuk teknis kesemuanya sudah cukup baik. Yang menjadi catatan negatif-ku dari pementasan terakhir TA adalah naskah yang kurang menarik, kalau tidak boleh disebut menjemukan. Kalau menurutku, yang tidak pernah mempunyai pengalaman membuat naskah, teater adalah permainan simbol. Artinya, segala karakter dan nama merujuk kepada sesuatu yang dengan segera audience paham. Yang kulihat pada pementasan kemarin, pembuat naskah sekaligus sutradara, saudara Rinto mencoba ingin penyajikan sebuah pementasan yang realis, mohon dikoreksi kalau salah, yaitu menghadirkan seorang seniman lukis yang berjuang mencari kepuasan. Terus terang aku pribadi sulit sekali membayangkan pelukis itu ada, karena realitasnya berada jauh di luarku. Kenapa ia tidak dapat menemukan kepuasan, tentang sumber inspirasinya yang berupa lampu teplok, dan akhirnya dia mendapatkan kepuasan dengan cara menjadi gila.?. Apakah kesemuanya itu mengandung arti dibenakku? Tidak! Yang menonjol tidak lebih adalah kelihaian si aktor berakting, bagaimana dia berlagak sombong, bingung, marah, gila. Seperti melihat fragmen-fragmen yang dikumpulkan sekenanya. Memang dapat dipahami, seni itu tidak mengenal batas eksplorasi dan tidak ada pakem yang membatasi. Sudah banyak contoh seniman-seniman gila yang mencoba memberontak kemapanan aliran-aliran yang ada, ambil contoh: Chairil Anwar, Sutardji, Afrizal M. sampai Ki Pandjikusmin yang masuk ranah agama. Kesemuanya adalah pendiri aliran-aliran baru dalam berkesenian. Namun apakah yang menjadi dasar pemberontakan mereka? Adalah hasrat mereka sudah tidak dapat tertampung pada ‘wadah’ yang sudah ada. Akhirnya mereka membuat ‘wadah’ sendiri, membuat pakem dan menetapkan aturannya sendiri, persetan dengan orang lain. Itu dapat mereka lakukan, pada awalnya, didasari pengetahuan mereka yang mendalam tentang aliran di zamannya. Begitu tahu aliran di zamannya begitu sempit, mereka mencari terobosan-terobosan baru, ujaran-ujaran baru yang, tentu saja, bukan sesuatu yang baru sebenarnya. Akan tetapi, yang tidak dapat mereka lakukan adalah keluar dari bahasa simbol masyarakat, lingkungan social mereka. Tikus selamanya menjadi simbol seorang yang rakus, walaupun tidak menutup kemungkinan suatu saat akan berubah. Ada contoh satu lagi yang menarik dapat kita jumpai pada sebuah film fiksi berjudul Stardust, dimana di situ seorang putri cantik disimbolkan dengan sebuah bintang. Pada awalnya dia adalah sebuah bintang yang berkelip di langit malam, kemudian jatuh ke bumi dan menjadi seorang putri cantik. Hatinya menjadi incaran para penyihir jahat karena dengan memakannya, si penyihir dapat memperpanjang umurnya. Di akhir cerita, dikatakan, untuk dapat hidup abadi dengan si putri ini, sang pangeran yang menikahinya haruslah memiliki hati yang cemerlang seperti bintang. Sederhana, namun orang yang menontonnya dapat dengan mudah mengasosiasikannya dengan kehidupan pribadinya. Seperti yang kemudian muncul dalam pikiranku setelah menonton film tersebut adalah, untuk menggapai cita-cita kita harus memiliki hati yang bersih dan cemerlang seperti bintang. Yang ingin saya katakan adalah: realitas yang disajikan begitu dekat dengan siapapun, siapa sih yang tidak memiliki cita-cita di dunia ini, sejak TK kita telah dianjurkan untuk memiliki cita-cita dan berusaha menggapainya. Kita kembali kepada naskah Batas Kontemplasi. Memang si pelukis dapat berarti siapa saja yang sukses menurut ukuran kehidupan di dunia. Bisa berarti seorang bos minyak, misalnya, atau eksekutif muda, atau ilmuwan peraih nobel dan sebagainya. Dan, keresahannya adalah sesuatu yang dia sendiri tidak tahu, kita dapat pahami di zaman yang serba susah ini. Kukira penonton yang hadir malam itu memiliki jarak yang berbeda-beda terhadap realitas yang coba untuk disajikan dan kurang populer. Kemudian, ditambah lagi akhir kisah harus diakhiri dengan kegilaan, yang sudah jamak di tulis pada naskah-naskah teater. Aku pikir keputusan meng’gila’kan sang aktor adalah tidak lebih dari upaya penulis untuk menyelamatkan pementasan dari alur cerita yang membosankan, panjang dan berbelit-belit. Dengan demikian mencegah penonton beranjak lebih awal dari tempat duduknya. Wallahua’lam. Sebenarnya, dari awal aku ingin mengusulkan kenapa tidak mengambil inspirasi dari kejadian sehari-hari. Misalnya: harga BBM naik rakyat harus antri minyak tanah, atau kejadian yang dialami jemaah Ahmadiyah yang tidak mendapat tempat di manapun di negeri ini, atau tentang pahlawan baru bagi rakyat bernama KPK dengan segala sepak terjangnya, dan sebagainya. Semuanya, adalah kejadian yang dengan mudah orang mengenalnya walaupun telah dibahasakan dengan simbol-simbol. Dan, tidak melulu diakhiri dengan kematian atau kegilaan, sebuah cerita yang lengkap namun tetap singkat efisien. Jadi, menurutku sebuah naskah teater alangkah baiknya bertemakan kejadian sehari-hari, yang dekat dengan semua orang. Kedua, meskipun penyajiannya berbentuk realis, bahasa simbol harus tetap digunakan untuk menyamarkan realitas dan memperindah sebuah cerita. Sekali lagi, ini bukanlah keluar dari seorang seniman teater, yang harus dijadikan dasar perubahan, harapannya dapat menjadi pemantik teman-teman di TA untuk mengadakan diskusi-diskusi seputar pembuatan naskah teater.:-)

Mei 28, 2008 Ditulis oleh roichan | gado-gado | | No Comments Yet

Rindu

Bergelimang dosa yang memilukan

Dalam tidur bertemu hantu

Cahaya suram muka lesu

Akankah aku dapat keluar dari lubang hitam

 

Kurindukan cahaya terang

Cahaya ilahiah yang agung

Kemanakah aku menemukanNya?

Terbayang hati berbungah memancar terang

 

Jauh samar terdengar pujian kepada sang kekasih

Majelis cinta yang bergelimang cahaya

mengapa begitu jauh hingga terlupa

Akankah aku dapat mendapatkannya?

Sekali lagi….

 

Aku harap cinta akan membuka kalb

Sekali lagi….

Terbebas dari dosa

Bertemu kekasih di dalam mimpi

 

 

Surabaya, 19 Mei 2008

Mei 28, 2008 Ditulis oleh roichan | Puisi | | No Comments Yet

Exotica Sempu

Pulau dengan luas kurang lebih 844 Ha itu berada tepat di sebelah selatan pulau Jawa. Letaknya yang menghadap langsung Samudera Hindia menjadikan pantai bagian selatannya yang bertebing curam diterjang ombak besar setiap waktu.
Terletak di bagian selatan kabupaten Malang, pulau Sempu dapat dicapai dengan 6 jam perjalanan dari Surabaya dengan kendaran umum. Dari terminal Purabaya, Surabaya perjalanan dapat dilakukan dengan bus Surabaya-Malang. Sesampai di terminal Arjosari, Malang, perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot jurusan terminal Gadang. Dari terminal Gadang, perjalanan dilanjutkan dengan bus mini menuju Turen. Dari Turen dilanjutkan lagi dengan angkot jurusan Sendang Biru, sebuah tempat wisata di Malang Selatan. Dari Sendang Biru barulah perjalanan dilanjutkan dengan menyeberang ke Pulau Sempu, yang memakan waktu hanya 15 menit menggunakan kapal nelayan. Tapi tunggu dulu, kita musti melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati hutan menuju tempat perkemahan, yaitu di pinggir sebuah danau air asin bernama Segara Anak. Di Danau Segara Anak inilah tujuan terakhir bagi para pelancong dan pecinta alam yang ingin menikmati keindahan alam Pulau Sempu.

Danau yang tidak dapat dibilang luas itu penuh dengan orang yang sedang mandi dan berenang. Sementara di pinggir danau banyak didirikan tenda, sedangkan anak-anak muda asyik bermain bola dan sebagian lagi memasak makanan. Bertolak belakang dengan ketika sedang melakukan perjalanan menyusuri hutan pulau Sempu. Melewati hutan yang masih perawan itu suasana begitu sepi, hanya kicau burung yang selalu menemani selama perjalanan. Hutannya masih lebat menutupi dasar hutan yang selalu lembab, sehingga kita tidak akan tersengat terik matahari meskipun di siang hari.

Pulau Sempu merupakan cagar alam yang dilindungi. Hal itu dapat kita lihat pada sebuah papan yang dijumpai begitu kita turun dari kapal nelayan dan kemudian menginjakkan kaki di Pulau Sempu. Ditetapkan dengan SK No. Tahun 1928, rupanya SK itu dikeluarkan pada masa pemerintahan kolonial.

Tidak hanya keindahan alam Pulau Sempu saja yang dapat kita jumpai kalau kita berkunjung ke daerah di Malang Selatan ini. Di Sendang Biru, tepatnya di Desa Tambakrejo wisatawan juga dapat berbelanja ikan segar di PPI (Pangkalan Pendaratan Ikan) Tambakrejo, atau di pasar ikan yang bersebelahan dengan PPI. Banyak dapat kita jumpai kekayaan Samudera Hindia diantaranya: ikan tenggiri, ikan tongkol, kerapu, cumi dan masih banyak lagi. Untuk ikan tongkol segar harganya berkisar antara 7 ribu – 10 ribu per kilonya. Di sini banyak dijumpai wisatawan memenuhi mobil pribadinya dengan ikan segar sebagai oleh-oleh untuk orang di rumah.

 

 

Mei 28, 2008 Ditulis oleh roichan | gado-gado | | 1 Komentar

Hello world!

Kulonuwun!!
Aku mengenal diriku sebagai seorang yang suka nongkrong, lebih tepatnya CangKru’an, soalnya aku nongkrong tidak d cafe ato mal, melainkan d warkop gresik-an khas Suroboyo.  Dari CangKru’ itu aku rasa dapetin banyak ‘hal’. Selain tambah banyak temen, aku juga sering dapetin suatu hal yang luar biasa, tentunya dari temen-temenku CangKru’. Terkadang suatu hal yang belum pernah terlintas dibenakku sebelumnya! Dari situ aku ingin buat blog ini, selain sebagai tempat nongkrong di dunia maya, blog ini juga sebagai tempat nyimpen ‘n sharing ide-ide yang pernah aku dapetin dari CaNgkru’an. Bagi temen-temen yang tertarik dengan ide-ide dalam blog ini, aku undang untuk turut CangKru’ bersama. Ok Bro! ngunu ae pembukaane! Ayo NyangKru’ bareng! O iyo ojo lali sedia Dji Sam Soe satu bungkus biar mulut gak kering ‘n gatal2…! Wassalam!

Maret 6, 2008 Ditulis oleh roichan | Uncategorized | | & Komentar